Sabtu, 24 April 2010

Kasus Anak berkebutuhan Khusus

Pertanyaan Ass, ibu…apakah kalau sang anak di vonis ber iq rendah…maka dia harus bersekolah di sekolah kebutuhan khusus? apakah tidak ada penanganan lain untuk masa depannya nanti??? terima kasih ..wassalam Jawaban Wa’alaykumsalam wr wb, Dear Ibu yang disayang ALLAH…. Memiliki anak dengan kebutuhan khusus bukanlah akhir dari segalanya. Justru, ini lah awal dari perjuangan Ibu sekeluarga dalam memaknai amanah tersebut. Saya bisa memahami kebingungan Ibu, karena saya pun dikaruniaiNYA anak dengan kebutuhan khusus. Satu hal yang perlu kita tanamkan dalam hati adalah rasa khusnudzhan kita kepadaNYA. ALLAH menciptakan segala sesuatu yang dikehendakiNYA tidak lah dengan sia-sia. InshaALLAH, Banyak hikmah yg akan bisa kita petik dari anak spesial kita tersebut. Ibu, ada beberapa hal yang harus saya klarifikasi dari pertanyaan yang Ibu sampaikan, terutama mengenai statement “anak memiliki IQ yang rendah”. Pertanyaan saya adalah : - Apakah pada anak Ibu telah dilakukan proses asessment yang melingkupi seluruh aspek perkembangan anak yang sesuai dengan usianya? Bila ya, adakah diagnosa yang ditetapkan oleh pemeriksa (dokter atau psikolog) mengenai kondisi anak Ibu? Saya bertanya mengenai hal ini karena bila ternyata ada diagnosa tertentu yang erat kaitannya dengan gangguan perkembangan pada anak atau kesulitan belajar pada anak, maka IQ yang rendah bisa saja merupakan implikasi dari gangguan perkembangan atau kesulitan belajar yang dialami anak. Sepekan yang lalu, saya dan tim, baru saja meng-asess seorg anak berusia 5 thn yg memiliki IQ berada pada taraf moderate mental retardation (keterbelakangan mental taraf sedang). Asessment kami lakukan karena secara logika, anak dengan taraf IQ moderate MR tebtunya akan mengalami banyak hambatan dalam hal akademik dan kehidupan kesehariannya. Namum kenyataannya, anak tersebut bisa menulis, membaca, juga bisa menghafal do’a dan surat2 pendek. Dari asessment yang kami lakukan, baru lah kami bisa mengetahui mengapa ia memiliki taraf IQ yang rendah. Ternyata, ia memiliki kesulitan dalam memproses informasi yang masuk sehingga ia mengalami hambatan dalam menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Karena itu, dibutuhkan terapi yang intensif guna meningkatkan kemampuannya dalam memproses informasi yang masuk sehingga diharapkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah juga semakin baik. Atau bila ternyata anak Ibu mengalami gangguan perkembangan, seperti Autisme, maka akan berbeda pula treatment yg harus dilakukan. Bila memang ternyata anak Ibu, “pure”, hanya mengalami IQ rendah, maka pertanyaan selanjutnya adalah : - Pada level berapa IQ yang dimiliki oleh anak Ibu? Karena untuk setiap level, treatment yang dilakukan juga akan berbeda. Yang jelas, untuk anak-anak yang memiliki IQ dibawah rata2 (taraf borderline – moderate), maka yang bisa kita lakukan dalam menyusun strategi program pembelajaran adalah sbb : a. Pelajaran harus bersifat konkrit (erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari). b. Metode pengajaran dengan pendekatan individual (tidak bisa dalam kelas besar). c. Pengulangan terhadap materi pelajaran harus dillakukan secara terus menerus. d. Memecah satu tugas besar menjadi beberapa bagian yg kemudian dipelajari anak secara bertahap, sehingga anak bisa lebih mudah memahami dan melakukannya. e. Menggunakan berbagai media yang bisa memudahkan anak untuk dapat lebih memahami materi pelajaran. f. Jangan terlalu menuntut syarat2 akademik yang tinggi. g. Kata-kata yang digunakan haruslah kata2 yang sederhana dan mudah dipahami anak. h. Mengajarkan kemandirian dan keterampilan pada anak mendapat porsi terbesar dalam proses pembelajaran. Saat ini, yang perlu Ibu lakukan adalah mulai mengidentifikasi dan memahami apa bakat dan potensi yang dominan pada anak yang kemudian bisa kita kembangkan sehingga kelak bakat dan potensinya tersebut bisa menjadi bekal anak untuk hidup mandiri di masa datang. Saya punya beberapa teman, para Ibu yang Subhanallah, luar biasa… Ada seorg Ibu yang sampai saat ini anaknya sudah berusia 11 thn, dengan autisme, belum bisa bicara, masih hyperaktive, secara akademik pun tidak mengalami kemajuan berarti, namun pada akhirnya kita menemukan sisi potensi pada anak tersebut. Ternyata ia sangat terampil mengerjakan tugas2 rumah tangga, seperti menjemur, membersihkan rumah dan dapur, dll. Alhamdulillah, dengan penuh kebanggaan sang Ibu mengatakan, “Alhamdulillah ya Bu Fajri, InshaALLAH ke depan anak saya mungkin bisa bekerja di bagian bersih2 ya….”. Subhanallah…. memiliki anak dengan kebutuhan khusus akan membuat kita jauh lebih bisa mensyukuri nikmat2 yang ALLAH berikan yang terkait dengan perkembangan anak. Meski kelihatannya sepele, tapi kita akan jauh lebih bisa menyadari arti perkembangan tersebut dan senantiasa bersyukur kepadaNYA. Jangan Ibu terlalu banyak berpikir tentang masa depan, karena itu hanya akan membuat Ibu menjadi semakin stress. Fokuslah pada apa yang bisa Ibu lakukan pada anak saat ini. Kita wajib berikhtiar semaksimal yang kita mampu. Setelah itu, kita pasrahkan kepada ALLAH saja. ALLAH lah yang memberikan amanah anak spesial tsb kepada kita. InshaALLAH DIA pula yang akan menjaganya dengan sebaik2 penjagaan. Tetap semangat ya Bu….. Sun sayang saya untuk ke-dua putrinya yang cantik2…. Wassalamu’alaykum wr wb Fajriati Maesyaroh, Psi. Sumber:http://rumahbungamatahari.wordpress.com/biro-psikologi-anak-dan-keluarga/anak-anak-spesial/anak-berkebutuhan-khusus-iq-rendah/

Kasus Crouzon Syndrome

Assalamu'alaikum WW. Perkenankan saya bercerita sekali lagi mengenai putri saya yang istimewa dalam hubungannya dengan pendidikan. Mudah-mudahan cerita ini dapat menimbulkan inspirasi pada teman-teman dalam berhubungan dengan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Anak saya didiagnosa Crouzon Syndrome pada usia 1,5 tahun oleh seorang dokter dari Australia (kebetulan dia punya jadwal datang ke Jakarta 2 X setahun). Perbedaannya sudah langsung tampak sejak lahir. Perbedaan penampilan fisik ini diiringi pula dengan gejala lain, yaitu matanya mudah lelah dan iritasi, tidurnya ngorok, sulit menelan makanan, kurang pendengaran, gigi rapuh. Pada tahun pertamanya fisiknya lemah dan perkembangannya lambat. Dan yang paling bikin ibunya stress, dia sangat sensitif, mudah menangis dan mengamuk. Kalau menangis bisa menghabiskan waktu 1 jam tanpa bisa dibujuk, hingga akhirnya berhenti karena kelelahan. Setelah pertemuan saya dengan dokter dari Australia itu, diputuskan untuk dilakukan operasi (rekonstruksi tulang tengkorak kepalanya) untuk menyelamatkan perkembangan otak dan syaraf matanya, sebab bila tidak, akan mengganggu perkembangan mental dan penglihatannya . Pada usia 2 tahun (1996) putri saya di operasi di Women and Children Hospital Adelaide Australia oleh Dr. David David. Kami berada di sana selama 1 bulan. Sejauh yang saya tahu, operasi semacam itu belum dapat dilakukan di Indonesia saat itu. Terus terang saya sangat terkesan dengan sistem kerja di sana, yang terstruktur dan melibatkan satu tim yang bekerja sinergi. Bukan hanya kesehatan fisik pasiennya saja yang diperhatikan, tetapi juga kesehatan mentalnya. Oleh karena itu peran psikolog dan pekerja sosialnya sangat besar. Mereka juga memberikan dukungan yang sangat positif terhadap keluarga pasien agar selalu optimis. Kondisi ini secara tidak langsung juga mendukung pada proses pemulihan anak. Ini merupakan satu operasi dari serangkaian operasi yang mungkin akan dihadapinya lagi. Operasi berikutnya baru dapat dilakukan bila anak sudah berusia remaja. Dari beberapa kasus yang saya ketahui, kasus seperti ini membutuhkan belasan kali operasi. Sepulang dari sana, saya diberi PR untuk penanganan anak saya selanjutnya. Putri saya (karena kurang pendengaran) harus mengikuti terapi bicara untuk mengembangkan kemampuan komunikasinya, terapi ini dijalani selama 2 tahun, sempat berhenti karena kondisi sosial politik di Jakarta tidak mendukung (kebetulan tempat terapinya di Jalan Salemba yang seringkali demo mahasiswa). Dilanjutkan lagi dengan terapi bahasa 6 bulan sebelum masuk SD. Selain terapi, dia juga rajin ke dokter karena sering sakit pilek (konstruksi hidungnya membuat dia gampang sakit dan susah sembuh), rajin ke dokter gigi karena giginya yang rapuh, gampang bolong meski rajin disikat. Dia juga pakai kacamata prisma, karena jarak antar matanya yang terlalu jauh menyebabkan otot matanya bekerja lebih keras untuk melihat jarak dekat (padahal dia senang sekali membaca, menulis dan menggambar). Saya juga nggak bisa mengharapkan ia makan banyak, karena kerongkongannya yang kecil menghambat dia makan terlalu banyak. Untuk masalah fisik, saya tinggal mengikuti panduan dari dokter saja. Namun untuk masalah konsep diri, sosialisasi dan pendidikannya, keluarganya harus berperan aktif. Saya masukkan anak saya ke Kelompok Bermain pada usia 2,5 tahun karena saya melihat dia sangat tidak percaya diri dan dependen. Saya berharap dia memperoleh kesempatan bersosialisasi lebih banyak. Sayangnya dia sempat ditolak karena disangka terbelakang dan kepseknya saat itu khawatir kalau teman-temannya yang lain akan ketakutan. Saya sedih sekali saat itu, saya katakan kepada kepala sekolahnya, bahwa saya tahu benar kalau anak saya tidak terbelakang, dan dia tidak akan mengganggu teman-temannya (misalnya, memukul), tapi memang anak saya berbeda. Justru di sini saya berharap dengan keberadaan anak saya tidak hanya menguntungkan anak saya saja, tapi juga menguntungkan anak lain, karena anak-anak lain menjadi tahu, bahwa tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, dan mereka juga jadi tahu bagaimana caranya bergaul dengan teman yang memiliki kekurangan atau keterbatasan tertentu. Singkatnya akhirnya anak saya sekolah di situ sampai TK-B. Saya sengaja memilih sekolah dengan kelas kecil (jumlah murid sedikit, hanya 12 orang dengan 1 orang guru) dengan harapan perhatian guru tidak terlalu terbagi, karena dengan keterbatasan pendengarannya, guru sering kali harus mengulang instruksi 2 sampai 3 kali pada anak saya (anak saya tidak mau pakai hearing aid karena dirasa mengganggu). Selama anak saya TK saya mulai hunting mencari SD yang kira-kira dapat menerima anak saya dengan kondisinya. Menurut saya anak saya membutuhkan sekolah dengan metode active learning, jumlah murid sedikit sehingga guru dapat menangani murid secara individual dan yang terpenting lingkungan sekolah yang kondusif untuk perkembangan konsep dirinya. Saya juga menghindari sekolah yang menerapkan sistem seleksi dengan menggunakan tes kecerdasan, karena saya khawatir meski anak saya berhasil masuk, namun akan mengalami stress karena beban belajar yang tinggi (biasanya sekolah dengan sistem seleksi ini mengharapkan muridnya relatif homogen untuk memudahkan penyampaian pelajaran). Alhamdulillah saya mendapatkan sekolah yang sesuai dengan harapan. Sekolah sangat welcome dengan anak saya (dan juga anak-anak lain yang mempunyai kebutuhan khusus). Setelah anak saya mengikuti try out (bukan seleksi, tapi lebih pada mengetahui sampai sejauh mana kemampuannya), saya bersama suami saya diundang untuk berdiskusi dengan pihak sekolah. Pertanyaan awal yang sangat menyentuh saya saat itu adalah ketika pihak sekolah bertanya, "Apa yang Bapak dan Ibu harapkan dari sekolah untuk perkembangan putri Bapak dan Ibu?" Intinya, diskusi kami dengan pihak sekolah membicarakan apa saja yang akan dilakukan oleh pihak sekolah (berkaitan dengan kebutuhan khusus anak) baik menyangkut proses belajar mengajar di kelas, sosialisasi dengan teman dan juga kebutuhan khusus fisiknya (harus gosok gigi setiap selesai makan, dan sering-sering membersihkan mata), apa yang perlu dilakukan orang tua di rumah, termasuk juga mempersiapkan kakaknya untuk menerima pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya mengenai adiknya yang "berbeda". Pokoknya kami membahas segala hal yang berpeluang menjadi masalah. Alhamdulillah sekali lagi. Saat ini putri kami sangat bersemangat sekolah, motivasi belajarnya sangat tinggi, terutama membaca, menulis dan menggambar. Masih agak pasif dan pemalu, namun dia tidak menolak untuk bergaul dengan teman yang mengajaknya. Saya amati dengan metode active learning dan pendekatan anak secara individual (memperlakukan anak sesuai dengan potensi dan kebutuhan anak), anak saya memperoleh perkembangan pesat dalam pemahamannya terhadap materi pelajaran yang diberikan. Di samping itu keberadaan anak-anak yang berkebutuhan khusus di sekolah memberikan nilai tambah bagi anak-anak yang lain sehingga dapat mengembangkan kemampuan empati terhadap temannya. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan orang tua yang lain, perkembangan positif ini tidak hanya dialami anak saya tapi juga anak-anak lain, misalnya, anak Autis, ADD, ADHD, Asperger, dan lain-lain. Satu hal yang mungkin agak mengganggu adalah masalah biaya yang tidak sedikit. Akibatnya tidak setiap anak dapat memperoleh kesempatan menikmati pendidikan yang baik. Nggak ada salahnya kalau saya mengulangi lagi, nampaknya perlu dipikirkan cara lain agar sedapat mungkin banyak sekolah/lembaga pendidikan yang dapat memberikan kesempatan pada anak-anak baik yang normal maupun yang memiliki kebutuhan khusus untuk dapat berkembang optimal, baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Sekian dulu Wassalamu'alaikum WW. Yeti Sumber:http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/763

Rabu, 21 April 2010

Kasus Disleksia(2)

Deskripsi: Aku tidak pernah ikut menyanyi. Aku tidak bisa mengingat kata-katanya, dan aku tidak bisa mengucapkan kata-kata itu dengan cepat. Kadang-kadang aku hanya menggerak-gerakkan mulut. Aku akan pura-pura atau menyanyi sedikit kalau aku ingat. Kalau aku berbuat salah, tidak akan ada yang tahu … Bagiku, huruf-huruf itu sama sekali tidak masuk akal. Mengenali huruf-huruf itu saja aku tidak bisa. Semuanya hanya kelihatan seperti garis lekuk-lekuk yang tidak ada artinya.” -David, 7 tahun. Akulah ibunya. Akan kulakukan semuanya untuk membantu David. Seandainya aku bisa “mengerti” dyslexia (disleksia), mungkin aku bisa menyingkirkannya dari David. Saat David sakit selagi masih bayi, biasanya aku menciumnya, berharap penyakitnya akan pindah ke tubuhku yang lebih kuat. Bagi orang lain, susah sekali memahami apa yang dikatakan David. Kurasa, kesulitan itu membuatnya frustrasi. Disleksia memengaruhi bagaimana perasaan David tentang dirinya sendiri, bagaimana interaksinya dengan orang lain, bagaimana dia mengelola amarahnya, dan bagaimana dia menentukan minatnya. Aku tahu, banyak tokoh yang dulunya menyandang disleksia kini termasyhur: - Albert Einstein, - Muhammad Ali, - Keanu Reeves, - Tom Cruise, - Robin Williams, - Whoopi Goldberg. Dan aku akan membantu David menjadi besar seperti mereka. *** “Bacaan yang memukau dan informatif…bagi orangtua dan guru yang ingin mengubah stigma anak dengan label menyandang kesulitan membaca.” -Jane M. Healy, Ph.D., penulis buku Your Child’s Growing Mind: A Guide to Brain Development and Learning from Birth to Adolescence. “Living with Dyslexia sangat memilukan namun membangkitkan semangat. Ibu dan putra berhasil menulis sebuah kisah yang tajam dan menggugah tentang bagaimana disleksia memengaruhi keluarga.” -Barbara Corcoran, penulis buku Use What You’ve Got & Other Business Lessons I Learned from My Mom, ketua The Corcoran Group Sumber: http://inibukuanak.wordpress.com/category/dyslexia/

Kasus Disleksia(1)

Category Archive You are currently browsing the category archive for the 'dyslexia' category. Apakah murid saya disleksik? Februari 26, 2008 in buku anak, dyslexia | Tinggalkan komentar gemd_02_img0088.jpg Saya guru kelas empat dengan seorang anak yang berusaha keras sekali. Dia dan ibunya berusaha membaca 10 kata setiap minggu. Dia bisa mendapatkan 8 dari 10 secara baik. Dia biasanya mendapatkan huruf tepat untuk kata tertentu, tapi tidak dalam urutan benar (misalnya, “pohon” menjadi “ponoh”). Dia telah diuji dan hasilnya menunjukkan ketidakmampuan belajar. Fasilitator ujian itu merasa bahwa anak ini hanya menebak untuk itu ia menghentikan ujian itu. Ia membaca seperti anak kelas 1, bisa matematika tapi harus bertarung untuk membaca. Dia juga mendapatkan kesulitan dengan pengalian (angka). Saya ingin membantunya, dan begitu pula keluarganya. Apakah ia disleksik? JAWAB: kesulitannya dengan pengucapan “berloncat”, masalah kata-kata dan kemampuan mengurut dalam perkalian adalah indikator kuat anak itu disleksik. Sebaiknya hubungi psikolog profesional untuk memastikan. (John Bradford) Megan (USA) Saya didiagnosis disleksik di kelas 1 setelah mendapatkan 180 dalam tes IQ dan tidak dapat membaca. Saya akhirnya harus menghabiskan waktu di sekolah untuk kelas khusus belajar. Saya dinyatakan spesial tapi pada umur 9 setiap anak ingin menjadi orang bisa dan tak ingin menjadi spesial, saya membenci kata itu hari ini. Saya adalah anak yang tak pernah mengikuti pentunjuk bukan karena saya tak mendengarkan tapi karena saya tidak mengerti apa yang ditanyakan. Bertahun-tahun saya belajar untuk mengikat sepatu dan ibu saya selalu meletakkan sepatu kiri saya sehingga saya bisa mengerti mana sepatu kiri dari kanan. Saya ke kamar mandi setiap hari saat harus membaca keras di kelas, saya mengambil ujian lisan dan harus meminta orang lain membacakan soal ujian. Saya bisa matematika tapi tak bisa mendapatkan kata-kata yang tepat untuk menyelamatkan diri saya. Hari ini usia saya 26 dan tetap membaca seperti kelas 5. Saya kuliah karena mendapatkan beasiswa sepakbola. Jika saya mendapatkan nilai A adalah mata kuliah Logic, apa lagi? Saya belajar dengan gaya saya dan bisa lulus kuliah satu semester lebih awal dari yang lain. Saya tak dapat melanjutkan ke S2 karena tidak dapat meyakinkan guru bahwa saya perlu pembaca untuk membantu ujian saya. Guru itu dipecat dan saya lulus dengan cepat. Ibu saya berpikir bahwa saya akan menjadi guru hebat karena saya telah mengalahkan sistem yang ada, tapi jujur saya pikir bahwa lebih baik menjadi guru yang bisa membaca dan berbicara dengan baik. Sekarang saya adalah pekerja sosial, dan senang menolong orang seperti yang telah dilakukan guru-guru saya dulu. Hidup saya lebih mudah daripada sekolah. Saya dapat mengubah huruf, dan ucapan saya tetap payah. Namun saya belajar mengikat tali sepatu, dan tak perlu mana sepatu kiri mana kanan. Saya tak peduli membaca keras-keras selama tak ada orang yang mendengarkan. Sumber:http://inibukuanak.wordpress.com/category/dyslexia/

Kasus kesulitan Membaca pada Anak(2)

Entah kebetulan atau tidak. Kekhususan juga dialami anak kedua dan ketiga. Perjalanan keduanya hampir sama dengan Ajeng. Baik Bambang Wyasa (10) dan Bambang Triartho (9) dilahirkan dengan kondisi leher terlilit tali pusat. Fase merangkak juga tidak dilalui anak-anak yang kupanggil Dimas dan Aryo ini. Dimas didiganosis mengalami gangguan konsentrasi dan perilaku. Kadang, ia menunjukkan sikap cueknya. Saat guru menerangkan, dia malah tiduran sambil membaca buku. Ditegur guru, eh, dia malah marah. Aryo agak lain. Kemampuan bicaranya lebih baik daripada Dimas dan Ajeng. Begitu juga kemampuan sosialisasinya. Dari ketiga anak saya, Aryo memiliki IQ dengan poin tertinggi padahal dua kakaknya memiliki IQ di atas rata-rata (superior). Aryo juga tidak memiliki gangguan perilaku. Hanya saja, saya melihat ada keanehan. Meski IQ-nya di atas rata-rata bahkan terbaik di antara teman-teman sekelasnya, prestasi Aryo justru paling rendah. Guru-gurunya juga sempat heran. Psikolog atau psikiater yang saya mintai bantuan pun mengatakan, Aryo adalah anak normal. Kelemahannya, dia sulit membaca karena ternyata mengalami disleksia. CAMBUK KOREKSI Hidup dengan tiga anak yang memiliki gangguan perilaku jelas tidak mudah. Setiap hari, rumah kami jauh dari rapi dan bersih. Rumah bukan saja mirip kapal tumpah, tapi kapal meledak. Mereka senang membuat semrawut ruangan. Saya juga tidak ingat, ada berapa ratusan makian atau ledekan yang sampai ke telingaku akibat perilaku mereka. Utamanya dari orang yang belum tahu kekhususan anak-anak saya. Sampai-sampai, ruangan BP dan guru di sekolah mereka menjadi kantor kedua saya saking seringnya saya dipanggil ke sana. Saya hanya bisa bersabar. Membuat hasil yang bagus membutuhkan perjuangan yang tidak sebentar. Hikmahnya, dengan memiliki anak-anak seperti Ajeng, Dimas, dan Aryo, saya jadi lebih pintar soal perkembangan, pendidikan, dan gangguan perilaku anak. Sejak 1996 ketika internet belum semarak sekarang, saya sudah sering membuka situs-situs yang memuat informasi tentang disleksia. Saya akui, hati saya memang hancur dan dada saya seakan remuk demi melihat ketiga anak yang memiliki kekhususan. Namun, saya tidak boleh larut terus dalam penolakan, saya harus berjuang agar potensi mereka dapat berkembang dengan baik. Lantas, saya memutuskan untuk berpikir positif. Mungkin Tuhan memberikan mereka kepada saya sebagai anugerah untuk mulai melakukan koreksi. Terus terang saja, sebelum ini saya senang merendahkan orang. Misalnya saja, bawahan yang kerjanya kurang becus bisa langsung saya hardik, ’Kamu dan saya sama-sama makan nasi, tapi kenapa saya bisa kamu tidak!’ Alhasil, saya jadi belajar untuk lebih bisa bersabar. Asal tahu saja, saya termasuk tipe orang yang maunya serbacepat, serbadisiplin, serbateratur, dan serbarapi. Mungkin karena saya dididik dengan pola asuh orangtua yang besar di Eropa. Saya bisa marah jika melihat ketidakteraturan atau kesemrawutan. Dengan hadirnya ketiga anak yang membutuhkan perlakuan khusus, saya jadi tercambuk untuk bersikap realitis dan tidak memasang target terlalu tinggi. Untuk ketiganya, saya hanya bisa berusaha keras membuat potensi mereka berkembang optimal. Syukurlah, kemampuan akademik anak-anakku cukup melesat. Ajeng selalu menjadi langganan ranking satu di SD Pantara. Bahkan, dia berhasil masuk sekolah umum, SMP St. Bellarminus. Prestasi Dimas juga dapat dibanggakan. Di sekolah dia termasuk pelajar berprestasi, tingkah lakunya juga sudah dapat diatur. Melihat perkembangan tersebut, saya mulai optimis untuk merancang masa depan mereka. Saya tidak menuntut mereka kuliah dan mendapatkan indeks prestasi akademik tinggi. Yang saya inginkan, mereka punya keterampilan yang dapat dibanggakan. Mereka boleh menggeluti bidang apa saja, asalkan berusaha menjadi yang terbaik. sumber: http://www.tabloid-nakita.com/Jendela/jendela10492.htm